PAK RAMA : Tugas Kapita Selekta (Ide Sulit)
Tagline : #RutinBeribadahDiDalamRumah
Mengingat Indonesia merupakan salah satu
negara pemegang agama terbesar maka tak ayal bahwa ibadah adalah rutinitas
masyarakat Indonesia.
Yang menjadi masalah adalah ketika pemerintah
mengumumkan “Social Distancing” untuk menghambat penyebaran virus ini, Social
Distancing ini adalah dimana semua masyarakat menjaga jarak, sekolah diliburkan
atau online, dan lain sebagainya.
Maka menjadi pertanyaan besar, bagaimana nasib
para pemegang agama ini? Muslim yang sholat jama’ah sehari 5 kali, Kristen dan
Katolik yang ke gereja, Budha, Hindu dan lainnya yang pastinya adanya kerumunan
massa disitu yang tentu saja menantang social distancing ini.
Maka dari itu, saya menilai bahwa
diperlukannya strategi ini guna mendukung Social Distancing yang dirujuk oleh
pemerintah guna memerangi virus COVID-19 ini.
“RUTIN
BERIBADAH DI DALAM RUMAH”
Melihat masih banyak masyarakat yang tidak
aware terhadap virus ini, apalagi masyarakat awam yang illiterate atau yang
belum dan tidak terliterasi sehingga adanya pengabaian bahkan penolakan dalam
diri mereka.
Banyak kasus, dimana orang-orang yang bahkan
pengguna media pun seolah-olah menenangkan dengan iming-iming agama. seperti
misalnya “Mati itu di tangan tuhan, Corona adalah ciptaannya. Jadi jangan
takut” masih banyak ditemukan narasi yang sedikit “sombong” tersebut di saat
pandemik seperti ini. Maka berimbas pada masyarakat kecil, yang menyerahkan
diri pada tuhan mereka. Padahal, ini adalah kasus worldwide, dimana semua orang
harusnya turut serta dalam menghambat penyebaran dengan menjaga jarak dan
menghentikan ibadah secara massal dahulu.
Meskipun di negara yang sudah mulai terkontrol
seperti China, Gereja sekarang dibatasi hanya boleh beberapa orang dan
sebagainya, namun Indonesia sedang mengalami stage krusial, sehingga harus
dihentikan penyebarannya secara dini. Salah satunya adalah dengan memberi
Awareness mengenai Rutin Ibadah dalam Rumah
Target Audiencenya sendiri adalah wilayah
pelosok yang masih belum terliterasi sehingga kisaran umur 20-60 tahun menjadi
target kami, latar belakang pendidikan,pendidikan secara umum karena agama
adalah hal yang lumrah untuk di sampaikan .
Strategi :
- Membuat
Iklan Kampanye mengenai :
●
Apa itu COVID-19 (5W1H) Apa
dampaknya, gejalanya, penyebarannya
●
Apa itu Social Distancing yang
dicetuskan oleh pemerintah dan efek yang ditimbulkan apabila melakukan social
distancing (menghambat penyebaran)
●
Lalu masuk ke topik utama,
Pentingnya beribadah disaat ada wabah lalu setelahnya diberi penjelasan,
bahwasannya ibadah bisa di rumah. (adegan berupa jamaah bersama keluarga
sendiri di rumah, berdoa bersama keluarga di rumah, menghindari keramaian
tempat ibadah seperti masjid, gereja, kuil dan lain sebagainya) lalu mengganti
tempat pengajian, pembacaan alkitab dan sebagainya di rumah masing-masing.
●
Iklan ini harus sangat
berhati-hati karena mengandung agama di dalamnya, sehingga sebisa mungkin kami
tetap bertujuan untuk mencegah penyebaran COVID-19 tanpa menyakiti para
pemegang agama di Indonesia.
Media yang digunakan :
- Televisi, Mengingat
media masyarakat luas adalah televisi. Selain dalam bentuk iklan
kesehatan, saya juga ingin menaruh iklan kampanye kami di dalam sinetron.
Mengapa? Karena banyaknya masyarakat luas yang menonton sinetron (prime
time) saat waktu luangnya seperti sinetron Ojek Pengkolan yang masih
memiliki rating tertinggi. Saya bisa menaruh iklan kampanye dalam
dialog mereka maupun dalam bentuk video saat sinetron sedang berlangsung
(hal ini sudah sering digunakan oleh sinetron tersebut dan terbukti
efektif karena disiarkan saat sinetron sedang berlangsung) meskipun
terhitung sangat mahal, keefektifan tidak dapat membohongi.
- Koran, masih
menjadi bacaan masyarakat luas secara umum. sehingga saya akan memberikan
gambaran strategi kami diatas dalam bentuk Visual dan mencuri start di
Headline agar orang tertarik untuk membacanya

Komentar
Posting Komentar